Cermat Mengenal Jenis-Jenis Reksadana Sebelum Berinvestasi

Pilihan investasi kini semakin beragam. Sehingga Anda pun leluasa memilih investasi sesuai kemampuan. Bahkan kini Anda tak harus memiliki modal besar untuk berinvestasi. Jenis investasi tertentu seperti investasi reksadana bisa dimulai dengan modal kecil.

Saat ini, membuka rekening reksadana bisa dimulai dengan modal awal puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah saja. Anda bisa menyisihkan sebagian yang Anda untuk merintis investasi ini. Namun sebelum Anda menekuni investasi reksadana, alangkah lebih baik jika Anda mengenal jenis-jenis reksadana terlebih dahulu. Nanti Anda akan lebih mudah menentukan jenis reksadana yang tepat sesuai kemampuan finansial Anda.

Reksadana Pasar Uang

Jenis reksadana yang satu ini merupakan reksadana dengan risiko investasi paling rendah. Karena dana yang Anda setorkan akan dialokasikan pada pasar uang yang nilainya relatif stabil, seperti deposito atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kendati demikian, peluang keuntungan reksadana pasar uang masih lebih tinggi dibandingkan deposito.

Anda yang ingin berinvestasi kurang dari satu tahun sangat disarankan memilih reksadana pasar uang. Sebab nilai return-nya lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan biasa. Sayangnya, keuntungan reksadana pasar uang masih lebih rendah dibandingkan tiga jenis reksadana lainnya. Sehingga reksadana ini agak kurang cocok bagi Anda yang membidik keuntungan investasi dalam jumlah besar.

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadaan pendapatan tetap juga dikenal dengan istilah reksadana obligasi. Karena reksadana ini akan mengalokasikan sebagian besar dana Anda pada bidang obligasi, yaitu obligasi milik pemerintah maupun obligasi korporasi. Pada umumnya, reksadana pendapatan tetap akan menempatkan 80% dana investor pada obligasi dan 20% pada pasar uang. Hal ini membuat keuntungan yang bisa diperoleh dari reksadana pendapatan tetap lebih besar daripada reksadana pasar uang. Pilihan reksadana pendapatan tetap sangat cocok bagi Anda yang ingin berinvestasi dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun.

Reksadana Campuran

Pada reksadana campuran, dana dari investor mulai dialokasikan sebagian pada bidang saham, sementara sebagian lagi dialihkan untuk obligasi dan pasar uang. Reksadana campuran membuat manajer investasi bisa lebih fleksibel mengatur penempatan modal. Nilai keuntungannya pun lebih besar dibandingkan reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Karena ada elemen saham yang menjadi salah satu penghasil keuntungan besar.

Soal urusan risiko, reksadana campuran juga memiliki risiko yang lebih besar daripada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Sebaiknya Anda tak terburu-buru menjual reksadana campuran yang nilainya sedang turun. Sebab reksadana yang satu ini cocok dikelola selama 3 hingga 5 tahun.

Reksadana Saham

Pada prinsip reksadana saham, 80% dana dari investor akan digunakan untuk sektor saham. Sedangkan sisanya disiapkan untuk obligasi dan pasar uang. Reksadana saham memiliki konsep high risk high return, keuntungan yang tinggi juga diimbangi dengan risiko yang tinggi. Karena risikonya tergolong paling tinggi dibandingkan ketiga jenis reksadana lain, maka investor pemula tidak disarankan untuk memilih jenis reksadana ini.

Para investor yang sudah berpengalaman di bidang saham bisa menanamkan modalnya untuk reksadana saham. Dana untuk reksadana saham sebaiknya benar-benar dana yang tidak akan Anda gunakan dalam waktu lama. Karena reksadana saham cocok untuk tujuan investasi selama 5 hingga 10 tahun.

Di antara keempat jenis reksadana tersebut, kira-kira manakah yang paling sesuai dengan kondisi finansial Anda?

Bila Anda termasuk investor pemula di bidang reksadana, Anda bisa memulainya dengan memilih reksadana pasar uang. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya wawasan Anda, nanti Anda pun bisa mulai menekuni jenis investasi lain yang keuntungannya lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *